Tuesday, July 3, 2007

Tuesday, May 29, 2007

Tidak Ada Cinta

Pagi itu, Bunda memandikan aku, pagi-pagi sekali. Tidak seperti biasanya. Sepertinya Ia tergesa. Dipanggilnya tukang ojek untuk mengantarkan kami berdua.

Pagi itu kami mengelilingi Jakarta. Aku tersenyum selalu karena baru kali ini Bunda berbaik hati mengajakku. Aku mendengar degup jantung Bunda berbunyi sangat keras. Apa karena aku terlalu dekat dengan hatinya atau karena Bunda memang sangat ingin melakukan sesuatu? Aku menikmati angin yang bertiup, lalu lama kelamaan tertidur.

Aku terbangun dari menikmati angin karena bunda ingin turun di sebuah jalan yang cukup lebar. Tidak begitu banyak kendaraan lalu lalang. Hanya ibu-ibu yang sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Bunda menghampiri mereka dan menanyakan sesuatu. Sebuah rumah yang dihuni oleh seorang laki-laki yang sering aku dengar namanya disebut oleh Bunda, setiap kali saat aku terbangun.

Ibu-ibu sempat menggelengkan kepala tanda tidak tahu, Sepertinya sang penghuni rumah tidak pernah berinteraksi dengan sekelilingnya. Kemudian mereka ribut. Menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah memberi petunjuk arah. Bunda mengucapkan terima kasih untuk kemudian kembali berjalan ke arah ibu-ibu tadi menunjukkannya.

Empat kali Bunda berjalan dari ujung yang satu ke ujunng yang lain, seperti dilanda kebingungan. Aku melihatnya menekan tombol untuk kemudian menghubungi seseorang. Kali kelima, ia mulai melangkahkan kakinya ke sebuah rumah agak kumuh. Bagian luarnya belum di cat, hanya dilapisi oleh semen tanpa ornamen apa pun. Di depan rumah itu hanya ada sebuah tangga yang tergeletak menunggu untuk dipancangkan. Mungkin sang pemilik rumah tidak memiliki dana berlebih untuk membangun rumah tersebut hingga akhirnya dibiarkan begitu saja.

Bunda mengetuk pintu rumah itu sambil tetap menggendong aku dalam pelukannya. Aku melihat sekeliling. Sepi. Hanya satu dua orang yang berlalu di depan rumah ini. Sangat jauh dari kesan bersahabat. Pintu pun terbuka. Seorang wanita tidak tinggi dan tidak kurus bertanya pada Bunda dengan nada cukup keras. "Mau apa?" Katanya seolah ia tahu siapa yang datang. Aku sibuk melihat keadaan di belakang bunda, aku tidak ingin melihat wanita itu. Bunda bilang, ia hanya ingin bertemu dengan laki-laki yang berada di dalam rumah ini. "Rully nya lagi mandi. Dia Mo berangkat!" Kata wanita itu masih dengan nada yang kasar. "Udah sana, gih!" Lanjut wanita itu.

Pintu rumah pun di banting. Bunda tidak bergeming. Ia berdiri dalam diam sambil menciumi jidatku. Aku melihat bunda resah. Aku tersenyum, mencoba menghiburnya. Ia pun tersenyum, seperti ada semangat yang mendorongnya.

Seorang laki-laki membuka kembali pintu rumah itu. Ia menghardik bunda. "Ngapain sih, lo ke sini?" Katanya dengan nada yang lebih kasar dari wanita tadi. Bunda menjawab dengan perasaan heran. "Apa gue ga boleh nemuin lo?" kata Bunda dengan nada sedikit pelan. "Gue bawa anak lo. Selama ini kan lo engga pernah liat dia. Apa lo engga kangen sama anak lo?" Lanjut Bunda.

"Kangen? Anak? anak siapa?" Kata laki-laki itu dengan nada tetap tinggi, kali ini tanpa perasaan sedikit pun. "Anak lo! Apa lo engga ngakuin ini anak lo?" Tanya bunda memelas.

"Engga! Gue engga ngakuin itu anak gue!" Katanya. "Udah sana pergi!!!" perintah lelaki itu sambil membalikkan badan bunda kemudian mendorongnya. Aku melihat laki-laki itu dengan jelas. Wajahnya. Tahi lalat di atas bibirnya. Amarah yang bercampur rasa malu. Entah malu karena apa.

Bunda berjalan gontai, kelelahan berjalan sambil menggendongku. Cuaca semakin panas. Keringat keluar dari dahiku. Keringat pun menetes dari dahi bunda. Satu tetes jatuh tepat di pipiku. Tapi kali ini bukan tetesan keringat itu. Hangat. Bunda berisak. Ia menangis. Diciumnya dahiku sambil berkata "Maafkan Bunda sayang, Karena kamu harus hidup dengan cara ini." katanya pelan seraya berbisik.

Bunda terus berjalan, tanpa henti. Menuju sebuah jalan raya. Banyak kendaraan lalu lalang. tapi Bunda tidak memberhentikannya. Bunda mendekapku erat seraya tak ingin berpisah! Sangat erat!!

Aku merasakan hujan. Tapi bukan tetesan dari langit.


God.... please give him d highest Hell in your Hell!!
Let d Hellfire burn him with no dust....

Apa itu 'Bunda'?

Malam ini, tepat pukul 11 malam, seperti malam-malam sebelumnya. Mataku yang sayup terpejam, mendengar suara itu lagi. Suara seorang wanita, yang selalu menggendongku malam hari, menciumi aku dengan gemas, sampai kemudian aku terbangun, malam hari. Untuk kesekian kalinya, wanita itu selalu menyapaku dengan sebutan cinta sambil tersenyum. Aku tidak pernah benar-benar mengenali wajah wanita itu. Hari ini sudah lebih dari 32 kali dia mengajak aku bercanda. Mencoba membuat wajah lucu dengan harapan aku dapat tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mengenalinya.

“Ayo, cinta! Panggil Bunda, gitu… bundaaaa…..bundaaaa….” Teriaknya sambil mengembangkan senyuman. Sekali lagi. Kenapa wanita itu sangat percaya diri memerintahkan aku untuk memanggilnya sebagai bunda? Ingin rasanya aku berkata padanya, “Aku tidak kenal kamu, wahai wanita yang selalu tersenyum!” Kataku dalam diam.

Aku terlanjur terbangun. Sambil sesekali terpejam, seraya mengantuk, aku melihatnya terus tersenyum memandangi aku. Matanya penuh cinta. Suaranya memanggil diriku sangat terdengar indah, seolah diiringi dengan aura kasih sayang dari dalam dirinya. Pegangannya lembut seolah terbuat dari tumpukan kain sutera berlapis-lapis. Tapi aku tetap tidak bisa mengenalinya, walau ia menyuruhku memanggilnya dengan sebutan Bunda.

Ia menidurkan aku di dalam kamar itu, tepat di sampingnya. Ia ciumi seluruh wajahku. Mengajak aku kembali bercanda. Namun kali ini ia kecewa. Malam ini aku tidak memberikannya senyuman. Aku mungkin ingat rasa genggaman itu. Aku mungkin mendengar samar suara panggilan itu, tapi tidak dalam waktu yang lama. Mungkin hanya ketika aku terbangun di malam hari. Seperti saat ini.

Bahkan ketika aku bangun di pagi hari. Wanita yang selalu tersenyum itu pun sudah pasti selalu berada di samping ku, terbangun dari tidurnya karena desahanku. Ia mungkin merasa terganggu, tapi kemudian tangan itu menggendongku erat dalam pangkuannya. Mengayun-ayunkan aku dengan mata terpejam, menahan sedikit kantuknya dengan menyanyikan nina bobo.

”Aku haus” kataku dalam sebuah tangis. Ia kemudian berdiri dengan gontai. Mengambil botol susu dan mengisinya. Ia jejalkan botol itu dalam mulutku. Aku berterimakasih padanya, yang telah menghilangkan dahagaku. Tapi tetap aku tidak mengenalinya.

Seorang perempuan lain mengambilku dari tempat tidur. Aku mengenalinya. Dialah yang selama ini mengurusiku. Memandikan aku setiap pagi dan sore hari. Memberi aku makan setelah itu. Menggantikan popokku saat sudah berat terisi oleh air. Dan kadang membawaku jalan melihat orang berlalu lalang, memamerkan aku di sepanjang jalan di sela-sela waktu. Tapi dia tidak pernah memintaku memanggilnya dengan sebutan bunda. Aku bingung. “Apa itu Bunda?”

Aku memperhatikan wanita itu bergegas. Tidak ada senyuman untukku pagi ini. Tapi aku terus memperhatikannya. Ada rasa rindu di hati ini. Rindu akan senyumannya. Genggaman tangannya, bahkan suaranya menyuruhku memanggilnya Bunda.

Itu dia! Dia tersenyum ke arahku. Berjalan perlahan menghampiriku yang masih tergeletak di atas tempat tidur setelah perempuan yang lain memandikanku. Ia panggil aku lagi dengan sebutan cinta. Ia tatap mataku dalam-dalam, sambil tersenyum, seraya berharap aku pun akan tersenyum. Ia ciumi kedua pipiku, dahiku. Lalu ia ambil ke lima jari tanganku,.didekatkannya punggung jari-jarinya sendiri kearah mulutku secara bersamaan. “Cinta, Bunda jalan dulu, ya! Doain Bunda biar dapet uang yang banyak buat beliin kamu susu. Doain bunda juga biar Bunda selamat sampai di kantor dan pulang kembali ke rumah. Bunda sayang kamu.” Katanya.

Hanya itu kata-katanya yang aku dengar setiap pagi. Ia menggendong aku sebentar sampai pintu rumah. Kemudian perempuan lain mengambilku dari tangannya. Aku masih ingin merasakan gendongan lembut itu. Namun tidak bisa. Ia telah menjauh dari pandanganku. Aku menangis dengan keras mengharapkan dirinya kembali dan menggendongku. Tapi ia tak kunjung datang.

Seperti pagi di hari-hari kemarin. Aku hanya bisa merasakan dirinya hadir dengan durasi 3 jam saja.

Seperti malam-malam kemarin. Aku hanya bisa merasakan dirinya kembali hanya selama dua jam saja.

Aku berjanji akan memanggilnya Bunda setiap hari, asal ia selalu berada di sampingku siang dan malam.

Friday, April 27, 2007

Ku kan selalu ada

Rysa cintaku
Akan aku kerahkan seluruh hidupku
untuk menggendongmu berjalan
melewati siang

Agar kelak
kau bisa memapah diriku
berjalan tertatih
melewati malam

Kau adalah duniaku, sayang....

Untuk Malaikat Kecilku

Wahai malaikat kecilku

Tuhan memberikanmu tangan
agar kau bisa menuliskan rumus-rumus kecil
yang dapat menciptakan kebahagiaan
untuk hidupmu sendiri

Tuhan pun memberikanmu kaki
agar kau bisa berjalan
meniti tali penderitaan
yang pasti akan berujung bahagia

Maafkan bunda
Karena hanya satu pijakan kecil ini
yang mampu menopangmu

Maafkan bunda
Karena pijakan lainnya
telah hilang terbawa angin

Asal kamu menyadarinya
pijakan kecil itu akan kuat membantumu melewati hidup
Ia akan membantumu mengusap air matamu
saat air mata itu tak dapat lagi kau bendung

Bahkan saat dunia meninggalkanmu
ia akan tetap berpijak di bumi
menunggu kedua kakimu
berdiri di atasnya.

Bunda cinta kamu, sayang....